Stories

2.11.11

(un)normal life.

Bagaimana kalau kalian adalah salah satu dari mereka?
Bagaimana dengan Jo? Atau, bagaimana dengan Santi?
Di dunia yang seperti ini, kicau burung cantik nan eksklusif dimana-mana berlagak seperti dunia hanyak milik mereka, gue belum pernah bertemu langsung dengan orang-orang yang memiliki kehidupan seperti ini. Belum.
Tapi ini cukup menggambarkan kehidupan mereka dibenak gue.
Yang kadang bikin gue hanya bisa diam dan melanjutkan membaca,
atau meringis lalu membayangkan pahitnya,
dan tersenyum merasakan kebahagiaan mereka.
Two thumbs up, Alberthiene Endah!
--------------------------------
Ada kalanya, dalam hidup kamu dibuat bodoh oleh sesuatu yang tak kamu kenali.
Kamu merasakannya.
Kamu menikmatinya.
Kamu mempertanyakannya.
Tapi kamu tidak mengenyahkannya.
Itu yang terjadi pada saya saat ini. Saya tahu, saya sedang melakukan kebodohan. Atau jangan-jangan, kesalahan.

Yang membuat saya diam beberapa detik adalah pandangan tajamnya. Yang tak pergi-pergi dari bola mata saya. Ia juga tidak menjauh. Sehingga saya bisa menangkap seluruh gambaran tubuhnya. Termasuk dua gundukan di dadanya.
Astaga. Dia perempuan!
"Nama saya Jo..." Suaranya bariton.
Kemudian hari-hari saya bergulir mengantarkan "astaga" demi "astaga" lainnya.
Mulanya saya terenyak.
Lalu berusaha memaklumi.
Memahami.
Semakin mengerti.
Kemudian hanyut di dalamnya.
Dia seperti udara yang menelusup begitu saja dalam relung hidup saya. Dia perempuan. Saya perempuan. Kami bercinta.

Dan kondisipun berubah..

Saya sadar, saya sudah menjadi gunjingan.
Saya tengah dihujat.
Sejujurnya, saya ingin menangis.
Benar-benar menangis! Bukan, bukan lantaran hujatan yang terarah pada saya. Tapi, lebih karena saya tahu, di balik hujatan iitu, Jo-lah yang sangat dilecehkan. Saya tidak terima. Tidak bisa berlapan dada. Jo teramat baik pada saya. Menyadari Jo dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan, seperti penyakit, saya terluka.

"Orang-orang seperti saya, nggak penting punya teman banyak. Saya lebih butuh beberapa orang saja, tapi yang bisa mengerti saya tanpa menyipitkan mata. Tanpa ada pertanyaan-pertanyaan." Jo berjalan kembali ke sofa. "Setiap orang punya suara hati. Suara yang paling jujur. Tapi hanya sedikit orang di dunia ini yang mau sungguh-sungguh percaya dan menjalani kata hatinya. Mereka lebih menghargai bibir orang lain. Ucapan umum. Ketentuan lazim yang diciptakan khalayak. Saya sedikit di antaranya. Buat saya, tak penting apakah orang akan mengucilkan saya, atau memandang saya aneh. Yang penting, saya jujur pada diri sendiri."
"Kamu bahagia?" saya bertanya hati-hati.
Jo mengangguk yakin. "Sangat"
"Kamu benar, Santi. Dunia saya memang sepi. Itu yang membuat saya sering menangis tanpa sebab. Cinta buat orang-orang seperti saya adalah harta karun. Mencintai dan mendapatkan cinta adalah keajaiban dunia yang perlu direngkuh. Dijaga. Diabadikan dalam selimut bernama setia. Itulah kenapa saya mencibir, maaf, orang-orang yang dibilang normal itu. Mereka mudah mendapatkan cinta. Karenanya mereka meletakkan kesetiaan di titik terendah." Jo memandang saya.

KETAHUILAH perasaan saya yang sesungguhnya.
Saya tidak melihat kesalahan di diri Jo.
Saya tidak terintimidasi olehnya.
Saya tidak terampas olehnya.
Yang saya rasakan hanyalah kebaikan. Kesetiaan. Kerinduan. Pengertian.
Dan rasa indah yang sulit dijabarkan. Rasa yang misterius, mengendap, menjalarkan kekuatan pelang-pelan dan mengikat hati saya dalam kenyamanan yang tak terkatakan.
--------------------------------
Diombang-ambing perasaan yang aneh. Antara menginginkan dia pergi, sekaligus merindukan dia. Antara merasa kuat sekaligus merasa lemah. Memutuskan berani meninggalkan dia, tapi gentar ketika dia benar-benar tak ada...

Saya sudah terpengaruh cerita Shinta.
"Dua tahun gue nggak mencoba mencintai siapa pun. Cinta gue sepenuhnya sudah dibawa lari sama Devy. Gue hidup normal lagi, lalu cari kerja. Tinggal di rumah orangtua. Waktu kondisi gue dianggap stabil, gue boleh kos lagi. Itu pun dipantau terus ama kakak gue. Dan, seperti yang lu tahu, gue mencoba dekat sama laki-laki. Gue bahkan mau tunangan..." suara Shinta datar. "Lu tahu, bahkan sampai detik ini nggak ada perasaaan hasrat gue pada calon gue. Dia... dia sampai sekarang seperti makhluk asing aja buat gue. Apa yang gue lakuin ini cuman untuk nenangin orangtua. Nenangin lingkungan supaya gue dianggap normal. Tapi hati gue, perasaan gue, kepala gue, semua lari ke Devy. Hampir tiap malem gue nangis karena kangen sama dia, San..." Shinta sudah tidak menangis lagi. "San, lesbian bukan penyakit. Nggak ada kata sembuh. Lesbian hanya cara alamiah individu yang berbeda dengan garis lazim, tapi itu bukan kesalahan. Nggak ada kata kembali sembuh, San. Barangkali... ya, gue sayang sama calon gue. Tapi kalau bicara cinta yang jujur, Devy adalah pemenang hati gue..."
--------------------------------
"San... Belajarlah sesuatu tentang kami. Meskipun saya mencintai sesama jenis, memaksakan cinta buat saya adalah sesuatu yang hina. Saya tidak akan begitu saja menerima seseorang yang jelas-jelas mencintai laki-laki..."