Stories

3.8.12

Terlarut kata..

Mencoba melupakan kamu sejenak. Tapi, setelah dipikir-pikir, haruskah? Itu sama saja menyiksa diri. Karena ternyata memikirkan kamu saja sudah cukup mendatangkan kebahagiaan absurd bagiku. Aku tidak dapat mencegah perasaan yang bertumbuh terus-menerus meskipun aku tahu persis masalah yang ditimbulkan.

Terlalu indah. Terlalu bahagia. Siapa sangka, aku telah membiarkan diri untuk tersesat di sini, untuk menikmati dengan perasaan tidak terbendung. Terlalu sulit untuk menyurutkannya. Terlalu percuma untuk mencegahnya meluap dan memenuhi seluruh ruang yang ada.

Kini, aku lebih dari sekedar bahagia hingga aku merasa kebahagiaan itu memiliki benang tipis yang tersambung pada ketakutan besar, bahwa suatu saat, aku akan kehilangannya. Biarlah sekarang aku mengalah pada sifatku yang serbaketakutan, mengabaikan dia yang sebenarnya tidak sepenuhnya salah.

Tuhan, cegahlah ia bergerak, karena iramanyalah yang membuat dunia ini seakan nyata. Biarkan tirai itu tersingkap, walau kebahagiaanku akan terenggut seketika. Seiring kelopak mataku yang mulai terbuka, dunia itu lantas musnah.

"Jika tiba-tiba saya harus menegaskan atau memperjelas sesuatu hal dengan seseorang--meski menyakitkan atau bahkan saya harus membohongi diri sendiri--pasti itu karena saya sangat menyayangi orang tersebut. Saya pikir, saya nggak keberatan kalau harus mengalah. Tak ada salahnya mengalah"

Maradilla Syachridar - Ruang Temu