Stories

22.11.12

Hai,

Jenuh banget rasanya ngeliat buku dan orang-orang yang selalu belajar. Setiap saat. Kalian gak lelah apa?! Apa hanya otak saya yang sedang bermasalah? Mungkin iya, otak saya belum mau menerima banyak pelajaran tapi akan. Insyaallah..

Masih terbawa suasana abis baca novel nih, mau coba bikin satu. Bukan novel, cuma cerita singkat. Tentu aja inspirasinya dari novel yang baru selesai dibaca. Jadi.. Maaf masih amatiran.

-------------------------------------

Cerita ini klise dan terlalu indah untuk dikenang.
Dimulai dari masa orientasi masuk sekolah yang membuat setiap orang seakan sibuk dengan teman barunya. Sama halnya dengan saya, saya pun sibuk berkenalan dengan orang-orang baru yang saat itu saya harap mereka akan menjadi teman baik saya. And yes, they truly are.

Pada awalnya kami berkenalan karena dia duduk di belakang saya, dan saya duduk di depan dia tentunya. Hanya sebatas itu? Tidak, cerita ini berlanjut. Ini tentang kami.

Tiga atau empat bulan duduk dibangku SMA, akhirnya dia membuat hubungan spesial dengan teman sebangkunya. Dan saya biasa saja. Tidak ada rasa apapun, apalagi cemburu. Semua baik-baik saja pada awalnya. Sampai akhirnya mereka tidak ada hubungan apa-apalagi.

Sebulan setelah mereka menjadi teman biasa, masalah pun menghampiri..
Entah bagaimana caranya ini bisa terjadi, semakin hari saya semakin dekat dengannya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan pun berlalu dengan kebiasaan baru saya yang selalu berkomunikasi dengannya setiap hari. Saya mulai kecanduan dengannya, sama hal-nya dengan orang yang kecanduan mengonsumsi obat-obatan terlarang. Mulai dari menanyakan tentang tugas sampai hal-hal gak penting, yang penting saya berhubungan dengannya. Cheesy. Dan, yap! Saya sadar saya sudah melewati batas, akhirnya saya meminta maaf kepada perempuan itu. Mengakui kesalahan saya. Menurut anda, apakah perempuan itu memaafkan saya? Saya sendiri tidak yakin, karena sampai sekarang kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Walaupun hanya sekedar menyapa.

Dia hanya teman.
Mulanya belum ada rasa apa-apa yang muncul di hati saya, lebih tepatnya saya menghindarinya. Dia hanya teman dekat saya untuk saat itu. Dan saya senang dia selalu ada di hari-hari saya, menemani saya setiap saat. Tapi saya belum tau bagaimana dengan perasaan dia kepada saya, sampai akhirnya dia pun mengatakannya.
Dua kali dia menyatakan perasaannya tapi saya selalu mengatakan tidak. Kenapa? Karena saya masih merasa bersalah dengan perempuan itu. Yang membuat saya bingung bercampur terkejut adalah dia tetap bertahan. Tetap menemani saya, menyemangati saya, mengisi hari-hari saya dan semua itu sangat membuat saya senang. Kami bahagia.

Setahun berlalu.. Terlalu banyak kenangan manis diantara kami walaupun tidak ada status yang jelas.
PDKT? Ah, rasanya terlalu lama untuk saling mengenal. Hubungan tanpa status? Mungkin bisa dibilang seperti itu. Pada pertengahan di bulan ke-12, dia menyatakan perasaannya lagi kepada saya dan akhirnya saya mengatakan iya.
Iya.
Saya merasa lelah untuk menipu diri saya sendiri dan menghindar dari kenyataan. Kenyataan kalau saya merasa semakin butuh dirinya dan perasaan yang saya hindari pun tumbuh dengan sendirinya. Bukan salah saya, hati tidak bisa bohong.
Kami berpacaran. Status kami jelas. Terimakasih Tuhan..

Cepat sekali waktu berjalan dan semua masih terekam jelas dibenak saya.
Dufan, Taman Mini Indonesia Indah, Central Park, Mall Kelapa Gading, Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Mall Metropolitan Bekasi, Bakoel Koffie, Sperta Restaurant, rumah saya, depan rumahnya, sekolah, semua menjadi saksi bisu kemesraan kami. Saya sangat rindu masa-masa indah itu, tetapi semua sudah berakhir. Tidak ada lagi yang selalu menemani saya, menyemangati saya, mengisi hari-hari saya.
Tidak ada lagi tentang kami.
Semua berubah. Dia berubah. Dia pergi. Dia tidak peduli.
Dia tidak mengerti. Saya tidak bisa menjelaskan.
Saya masih mencoba bertahan disini. Menangis melihat dia pergi tetapi tersenyum melihat dia berbahagia tanpa saya.
Terlalu sulit untuk saya membiarkannya pergi tapi harus.

Hai kamu, perasaan ini masih tetap sama dan saya akan menjaganya.
Ini saya lakukan hanya untukmu. Untukmu, agar kamu bahagia.
Mungkin ini karma karena saya membiarkanmu bertahan terlalu lama menunggu saya, sekarang giliran saya bertahan menunggumu entah sampai kapan. Saya yang salah, memang selalu saya yang salah sejak awal. Saya minta maaf tetapi saya juga berterimakasih untuk kenangan manisnya. Akan saya selalu bawa kemanapun saya pergi kenangan manis itu. Bahkan, saya tidak akan membiarkan semut untuk menyicipi kenangan manis kita. Kamu tetap ada di hati saya.

Saya berharap cerita ini berlanjut dengan happy ending seperti yang selalu ada di cerita-cerita dongeng.
Saya hanya berharap. Saya tidak tau apa yang akan terjadi nantinya.
Bila cerita ini tidak berlanjut, maka cerita saya dengannya hanya sampai disini.

--- To be continued? Or, finish? ---