Stories

12.1.13

Imajinasi?

Sometimes.. Berimajinasi itu perlu ya, for me, dan itu menyenangkan. Yang bikin berimajinasi terlihat bodoh itu ketika kita berharap dari imajinasi itu. Apalagi harapan yang terlalu tinggi.
Intinya, saat ini gue sedang berada di titik berimajinasi itu bodoh.

"Hati itu dipilih, bukan memilih." -Perahu Kertas
Makanya ada istilah ditinggalkan dan meninggalkan.
Walau berakhir cinta kita berdua hati ini tak ingin dan selalu berdusta. Lupakanmu takkan mudah bagiku. Selalu ku coba namun aku tak mampu membuang semua kisah yang telah berlalu. Di sudut relung hatiku yang membisu ku merindukanmu. Harusnya ku telah melewatkanmu, menghapuskanmu dari dalam benakku. Namun ternyata sulit bagiku merelakanmu pergi dari hatiku. Selalu ingin dekat tubuhmu namun aku tak bisa karena kau telah bahagia. (Adera-Melewatkanmu)

Sekarang, balik lagi ke berimajinasi itu bodoh.
Bodoh? Kenapa bodoh? Karena kita bisa jatuh dari imajinasi itu. Kayak gue sekarang.
Terjatuh. Terlalu keras. Terlalu perih. Terluka. Terlalu dalam. Terlalu tak berdaya.
Bisa apa kalau udah seperti ini keadaannya? Diam? Iya. Menangis? Iya. Menyesal? Tidak. Tapi, setelah semua usaha yang kita lakukan agar imajinasi itu tidak bodoh, begini balasannya? Gak adil ya.

Dan saya berhenti berimajinasi mulai sekarang. Uh, saya akan tetap berimajinasi bila diperlukan.
Halo ketidakadilan, pasti kamu senang melihat saya sekarang. Mati.