Stories

31.7.13

Kisah ini bermula ketika seorang anak berseragam putih-merah, Ara, akan merayakan kelulusannya di sekolah. Anak ini memiliki.. sahabat? mantan sahabat?, ya apapun sebutannya, yang memiliki seorang kakak yang sangat baik hati. Ara tidak perah menyangka hubungan dengan kakak baik hati tersebut, yang hanya berawal dari sebuah pesan singkat mengucapkan selamat sudah lulus dari bangku SD akan terjalin baik, sangat baik, sampai sekarang.
6 tahun. Percaya tidak?
Harus percaya. Karena ini kenyataannya.
Suka duka sudah banyak mereka lewati. Bertikai lalu rujuk dan bertikai lagi beribu kali sudah mereka lalui. Mendengar perkataan kebun binatang orang-orang pun telinga mereka sudah kebal. Orang-orang iri terhadap mereka, setidaknya kalimat itu yang Ara pegang agar tangannya tidak hinggap tepat di wajah orang-orang itu dengan kerasnya.
Orang-orang itu tidak tau rasanya bahagia yang sesungguhnya, kehilangan yang sesungguhnya, segala-galanya yang sesungguhnya. Tapi Ara sudah merasakan sebagian besar dari segala-gala sesungguhnya. Oh, kalian pasti mulai berpikir yang tidak-tidak tentang mereka. Jangan salah sangka dulu. Kisah ini belum selesai.
Ketika itu, Ara memiliki pacar dan kakak baik hati memiliki pacar. Tetapi, mereka sedang berada di titik yang sama. Titik terbawah. Akhirnya, dengan saling bercerita mereka pun semakin dekat. Semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat. Sampai akhirnya mereka pun menjadi bahan perbincangan orang-orang. Kenapa?
Terlebih dahulu, kita kembali lagi berbicara tentang adiknya si kakak baik hati. Mendengar berita kakaknya dan, em, mantan sahabatnya, semakin dekat akhirnya dia merasa iri. Merasa dirinya dilupakan oleh mantan sahabatnya dan kakaknya sendiri. Tapi, ah, Ara rasa dia memang selalu begitu. Jadi bukan masalah lagi untuknya. Tentu saja tetap menjadi masalah untuk orang-orang.
Nah, itu jawaban dari kenapa. Selain alasan itu, umur mereka berbeda jauh sekali lagi. Tetapi, tidak ada larangan untuk berteman dekat dengan orang yang berbeda umur sangat jauh kan? Ya tentu saja, lagi-lagi suara mayoritas menang. Ara dan kakak baik hati mengalah, atau mengaku kalah lebih tepatnya. Mereka pun menjalani semuanya dengan diam-diam. Ya itu lah orang di negri kami, terkekang. Yang berkuasalah yang selalu menang. Apa daya.
Ara telah melihat seburuk-buruk dan sebaik-baiknya kakak baik hati. Begitu juga sebaliknya. Seperti yang saya sebutkan, kakak baik hati, iya ia memang baik hati. Ia menerima Ara apa adanya, tidak nge-judge, selalu memberi dukungan, perhatian. Ah, kurang apa lagi? Sungguh itu yang Ara butuhkan saat itu, karena ketika Ara akan menduduki bangku SMP, orang-orang mengira ia kurang beruntung karena sejujurnya Ara masuk di sekolah yang kurang bagus. Orang-orang tersebut pergi satu persatu dari kehidupan Ara, mungkin mereka kira Ara sudah tidak keren lagi? Haha, biarkan sajalah orang-orang seperti itu. Toh, Ara tidak menyesal, karena ia sadar ia belajar banyak tentang hal-hal yang bersangkutan dengan mimpinya di sekolah tersebut. Singkatnya, Ara mendapatkan kesempatan yang belum tentu bisa ia dapatkan di tempat lain. Ternyata Ara sungguh beruntung, bukan? Kapan lagi Ara bisa bolos pelajaran ke ruang kepala sekolah dan ngerujak bareng kepala sekolah? Kalian pernah tidak? Kalau tidak, jelas dong siapa yang keren. Siapa sangka dari sekolah yang orang bilang kurang bagus, Ara bisa memasuki sekolah unggulan di ibu kota? Lalu sekarang Ara mendapat kesempatan untuk mengejar mimpinya di tempat yang ia inginkan. Siapa sangka?
Tapi, kalian harus tau hanya satu orang yang menerima apa adanya dan selalu ada ketika Ara sedang berada di bawah dan di atas, yaitu kakak baik hati. Lagi-lagi, Ara sungguh beruntung bukan?
Alhamdulillah..
Itulah hidup. Kalian tidak tau apa yang akan terjadi dikehidupan kalian, tapi kalian akan tau, cepat atau lambat, orang-orang yang patut kalian perjuangkan dan patut kalian tinggalkan.

Berusaha.
Sabar.